Kata Orang Bijak tentang wanita

Seorang bijak dalam blognya berkata...
"Wanita selalu akan mengembalikan yang lebih untuk pria"

Jika kamu memberinya rumah, maka ia akan memberimu kehangatan dalam rumahmu.

Jika kamu memberinya beras, ia akan menanak nasi untukmu.

Jika kamu memberinya CINTA, ia akan memberimu pengabdian seumur hidupnya.

Tapi jika kau memberinya hinaan, ia akan memberimu doa dalam air mata kepedihannya, dan itu berarti siapkan dirimu untuk berjuta KEMALANGAN !!

Jika kemarin kamu berdoa dan yakin bahwa dialah wanita yg sudah terpilih untukmu, maka terimalah dia bukan hanya sebagai wanita yang sempurna, tetapi terima lah dia dengan Cara Yang Sempurna, dan sebagai wanita yang terbaik.

Bukanlah dia yang tidak pernah berbuat salah, tapi dia yang selalu berkata maaf untuk setiap kesalahannya, dan ia yang punya sejuta maaf untuk kesalahanmu.

Ia yang mau menerima masa lalu mu dan siap merancangkan masa depannya bersamamu serta menyerahkan kehidupannya padamu.

Ia yang selalu cemas dan hilang akal ketika kamu tak memberinya kabar.

Jika dulu sifat manjanya membuatmu tertawa lucu..
Cemburunya berarti dia sayang padamu..
Air matanya bisa menyayat hatimu..

Tapi sekarang semuanya itu jadi alasan kamu melepaskannya...

Maka Merenunglah Sejenak ! Mengapa dalam berbagai legenda bahwa wanita itu tercipta dari tulang rusuk pria, bukan dari tulang kepala ??
Karena wanita bukan untuk memimpin pria, Dan juga bukan dari tulang kaki pria,
Karena wanita juga bukan alas kaki pria.

Wanita tercipta dari tulang rusuk pria karena dekat dengan hati, agar wanita menjadi pendamping, penjaga hati. Dekat dengan hati karena untuk disayangi.

Wanita akan terlelap dalam dekapan pria.
Karena wanita tahu dari sana dia berasal.

Maka dari itu kenali dan sayangi "TULANG RUSUKMU

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Layar Ujian TKA Hari Ini di SMA Bayt Al Hikmah: Persiapan hingga Realitas di Lapangan

Dua Hari Bersama TKA: Dari Komputer Lemot, Kunci Ketlisut, Misteri Soal No 25 hingga Kunjungan Gus Amak

Belajar Menikmati Pahit: Cerita Saya dengan Kopi Tanpa Gula