Hari ini akhirnya TKA juga. Tapi jujur, bagian paling heboh itu justru sebelum hari H. Soalnya, saya kebetulan ditugaskan jadi teknisi merangkap proktor bayangan, dimana proktor utamanya u denny dan percaya deh, bagian “merangkap” itu bikin deg-degan 😅. Untungnya kita dibantu ustad raya dan ustad luqy tim IT yayasan... Bener bener ngebantu banget... Tugasnya teknisi TKA bukan cuma nyiapin komputer yang dipakai buat ujian (membantu ngidupin tok sebenere)...heheheehe.. tapi juga sarana dan prasarana seperti camera webcam untuk digunakan buat zoom pusat yang bakal mantau langsung. Setiap ruangan harus punya dua webcam — satu buat pemantauan pusat lewat Zoom, satu lagi buat dipantau internal pake google meet (ini atas permintaan dari u Subkhan selaku kepala sekolah SMA Bayt Al Hikmah). Nah, Bayt sendiri menggunakan punya empat ruang untuk ujian, 2 ruang untuk putra dua ruang untuk putri kalau t...
Gus Amak memantau proses ujian TKA di Labkom Putra Berangkat pagi menembus embun, Niatt semangat walau mata masih sayup. Kadang rencana sudah tersusun, Tapi takdir suka kasih kejutan yang hidup. 😄 Pelaksanaan TKA (Tes Kompetensi Akademik) di SMA Bayt tahun ini berlangsung selama dua hari ikut yang gelombang kedua — Rabu dan Kamis, 5–6 November 2025 dan dibagi menjadi 2 sesi dimana di SMA Bayt disediakan 4 ruang labkom 2 di putra 2 di putri. Di mana beberapa sekolah ada yang memulai ujian TKA mulai gelombang pertama yaitu Senin dan Selasa tanggal 3 dan 4 November 2025. Bagi yang belum tahu, TKA ini adalah tes berbasis komputer yang menilai kemampuan akademik peserta, biasanya untuk seleksi kedinasan atau perguruan tinggi. Nah, di balik lancarnya ujian, ada banyak kisah kecil yang mungkin gak terlihat dari luar — tapi buat kami, tim teknis dan proktor, justru di situlah...
"Kopi itu pahit. Seperti hidup. Tapi justru dari pahit itulah kita belajar menikmati." Dulu saya percaya bahwa kopi tanpa gula itu seperti hidup tanpa tawa—tidak layak dinikmati. Ya, kopi harus manis. Kalau enggak manis, ngapain diminum? Saya bukan penikmat rokok, tapi sejak beberapa tahun yang lalu, saya mulai menyukai kopi. Awalnya sekadar ikut-ikutan teman, atau sekedar nyoba eh lama-lama jadi kebiasaan yang justru terasa "kurang" kalau dilewatkan. Tapi tentu saja, waktu itu kopi saya masih manis: satu sendok gula, kadang lebih, biar terasa "nyess." Yang paling sering malah yang ringkes yang cepet dan gampang yaitu kopi sachetan. Heheheheh.. Dari Kopi Instan, Kopi Susu, ke Kopi Beneran Kalau ditarik lebih ke belakang, awalnya saya bukan peminum kopi murni. Lebih seringnya ya kopi sachet. Kadang yang 3-in-1, kadang kopi susu, kadang yang creamy-creamy itu yang enak banget diminum kadang sore hari, pas sambil kerja atau santai. Itu yang paling ser...
Komentar
Posting Komentar