Super Camp 2024: Cerita dari Balik Layar

   

        Katanya, “kalau sukses melaksanakan tugas, ya pasti dipakai terus. Kalau gagal, ya langsung dinilai jelek.”
       Kalimat itu kadang terngiang di kepala saya. Namanya juga mengabdi, di manapun tempatnya pasti ada tekanannya masing-masing. Begitu juga di tempat saya berkarya. Agenda kegiatan banyak sekali, tapi kali ini saya ingin cerita khusus tentang Super Camp 2024.

        Buat yang belum tahu, Super Camp ini semacam kegiatan “meluruskan rel” atau kalau pakai istilah gampangnya, “nyamain frekuensi” sesuai arahan pimpinan. Tahun ini saya kebagian tugas jadi pemandu acara. Kegiatan berlangsung dua hari, dan sudah bisa ditebak: butuh kinerja panitia yang benar-benar total.

        Di sie acara, komando dipegang Mbak Sitta, dengan anggota saya, Fuaidah, ustadzah Ayu, ustadzah Mudrika, dan ustad Yogi. Sehari sebelum acara, kami team acara dikumpulin di BLK buat di-briefing soal jobdesk masing-masing, termasuk siapa yang harus ngisi bagian acara tertentu. Saya kebetulan dapat jatah malam hari, yaitu malam keakraban bersama pimpinan.

        Nah, disinilah drama kecilnya mulai…
Saya terus terang kelewat baca tema lengkapnya alias ga mbaca temanya. Saya kira “malam keakraban” itu maksudnya antar peserta, jadi saya siapkan game-game seru buat bikin peserta makin akrab. Lha ternyata… ada kata kunci yang saya skip: “dengan pimpinan.”
Jadi bayangan saya waktu itu: “lhoh, kok pimpinan ikut nongol? ini ngapain mereka hadir di game-game ini?” Wkwkwk. Ternyata memang agendanya memang ditujukan agar peserta bisa akrab dengan para pimpinan. Ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur.

Dibandingkan dengan Host Tahun Lalu

        Ada satu hal yang bikin saya agak “mangkel.” Ketua penyelenggara sempat bilang, “Kalau bisa ya acaranya seperti host tahun kemarin.”
Lah, gimana ya… tiap orang kan punya gaya masing-masing. Katanya setiap anak adalah bintang, tapi kok malah dibanding-bandingkan? Kalau cuma ditekankan “acaranya harus meriah,” oke, itu bisa jadi tantangan buat saya. Tapi kalau sampai dibilang, “harus sama kayak dua host kemarin ya,” dalam hati saya langsung nyeletuk: “kalau gitu kenapa nggak suruh mereka aja sekalian yang mandu lagi?”

        Bukankah dalam parenting juga kita diajarkan jangan suka membandingkan anak-anak? Sama halnya di sini, rasanya agak jleb juga kalau dibandingin begitu.

Malam Keakraban: Saatnya Games!

Oke, lanjut ke acaranya. Saya duet dengan Mbak Mudrika membawakan empat permainan:

  1. Game Perkenalan.
    Peserta diminta mencari tanda tangan teman yang sesuai dengan pertanyaan di kolom. Misalnya: “siapa peserta paling ganteng?” Mereka harus keliling cari orang yang menurut mereka cocok, lalu minta tanda tangannya. Game ini super rame, sampai panitia harus bolak-balik mengingatkan supaya jaga jarak antara cowok-cewek. Tapi namanya juga lagi seru, mana bisa fokus sama laranganya dong..hehehehehe...

  2. Tebak Kata.
    Setiap kelompok mengirim satu orang untuk maju. Tugasnya memperagakan kata tertentu agar teman-temannya bisa menebak. Ada lima kata, waktu hanya satu menit. Teriakan dan ekspresi mereka bikin suasana tambah cair.

  3. Tebak Gambar.
    Nah ini unik, saya siapkan gambar wajah para pimpinan unit. Peserta dibagi lima kelompok, masing-masing harus bisa menebak wajah siapa itu. Seru banget, sampai ada yang teriak-teriak curang, ada yang maju terlalu depan, pokoknya heboh!

  4. Game Bintang.
    Setiap kelompok yang menang dapat bintang. Kalau ada kelompok yang bintangnya paling sedikit, konsekuensinya harus mempresentasikan materi di depan kelas. Inilah yang bikin peserta makin semangat, karena semua takut diminta maju.



 Penutup

Alhamdulillah, lewat game-game itu kami dari sie acara bisa membuktikan bahwa acara bisa berjalan heboh, cair, dan akrab—tanpa harus mengubah diri jadi “host orang lain.” Kami jalankan dengan identitas kami sendiri.

        Yang jelas, Super Camp 2024 ini bukan sekadar agenda rutin, tapi juga momen untuk belajar: bahwa menghibur, memimpin, dan memandu acara juga perlu keberanian, kreativitas, dan tentu saja… siap dikritik.

                

        


        




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Layar Ujian TKA Hari Ini di SMA Bayt Al Hikmah: Persiapan hingga Realitas di Lapangan

Dua Hari Bersama TKA: Dari Komputer Lemot, Kunci Ketlisut, Misteri Soal No 25 hingga Kunjungan Gus Amak

Belajar Menikmati Pahit: Cerita Saya dengan Kopi Tanpa Gula