Belajar Menikmati Pahit: Cerita Saya dengan Kopi Tanpa Gula

"Kopi itu pahit. Seperti hidup. Tapi justru dari pahit itulah kita belajar menikmati."

 


Dulu saya percaya bahwa kopi tanpa gula itu seperti hidup tanpa tawa—tidak layak dinikmati. Ya, kopi harus manis. Kalau enggak manis, ngapain diminum?

Saya bukan penikmat rokok, tapi sejak beberapa tahun yang lalu, saya mulai menyukai kopi. Awalnya sekadar ikut-ikutan teman, atau sekedar nyoba eh lama-lama jadi kebiasaan yang justru terasa "kurang" kalau dilewatkan. Tapi tentu saja, waktu itu kopi saya masih manis: satu sendok gula, kadang lebih, biar terasa "nyess." Yang paling sering malah yang ringkes yang cepet dan gampang yaitu kopi sachetan. Heheheheh.. 

Dari Kopi Instan, Kopi Susu, ke Kopi Beneran

Kalau ditarik lebih ke belakang, awalnya saya bukan peminum kopi murni. Lebih seringnya ya kopi sachet. Kadang yang 3-in-1, kadang kopi susu, kadang yang creamy-creamy itu yang enak banget diminum kadang sore hari, pas sambil kerja atau santai. Itu yang paling sering saya minum sebelum akhirnya benar-benar beralih ke kopi hitam tanpa gula.

Lucunya, kakak saya pernah berkomentar soal kebiasaan saya ini,
"Kopi susu itu kopi munafik. Kopinya bikin melek, susunya bikin merem!"
Saya cuma bisa ketawa waktu itu. Tapi jujur, ada benarnya juga. Karena efeknya memang campur aduk. Mau fokus, tapi ujung-ujungnya malah ketiduran juga… hahaha.

Dari Candaan ke Kebiasaan Baru

Saya ingat betul, dulu ada teman yang meracik kopi tanpa gula. Serius banget, penuh perhitungan. Saya sampai berkelakar:
“Lama banget, bro. Emang bisa dinikmati tuh kopi pahit begitu doang?”

Kami semua tertawa waktu itu. Tapi lucunya, sekarang saya malah jadi orang yang paling santai menikmati espresso—tanpa gula, tanpa susu, tanpa kerutan di dahi. Pahitnya? Justru jadi daya tariknya.

Gula, Kenapa Harus Dikurangi?

Seiring berjalannya waktu, saya makin sadar bahwa konsumsi gula perlu dikendalikan. Bukan karena sok sehat, tapi lebih karena berpikir jangka panjang. Demi kesehatan dan energi yang cepat naik karena gula ternyata bisa bikin cepat drop juga. Lama-lama jadi tidak nyaman. Apalagi saya juga harus aktif, baik sebagai pendidik maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Mulailah saya coba kurangi gula. Termasuk di kopi. Awalnya aneh, lidah protes. Tapi seperti halnya banyak hal dalam hidup, semua butuh pembiasaan. Sekarang? Bahkan espresso pun sudah seperti teh tawar biasa.

Ngopi = Fokus

Bagi saya, kopi bukan hanya soal rasa. Saat saya mengajar, kopi menjadi “teman panggung” yang tidak tergantikan. Tanpa kopi, konsentrasi bisa buyar. Serius. Rasanya seperti kurang lengkap. Bahkan bukan soal kafeinnya semata, tapi lebih ke rutinitas dan ritme yang terbentuk.

Secangkir kopi di atas meja bukan sekadar minuman. Ia semacam isyarat: waktunya fokus, waktunya hadir penuh, waktunya berkarya mencurahkan ide. 

Lebih Jujur Tanpa Gula

Kopi tanpa gula membuka banyak rasa yang sebelumnya tersembunyi. Ada asam segar, pahit bersih, kadang ada rasa buah atau kacang yang muncul perlahan. Dulu semua itu tertutupi oleh manis buatan. Kini saya bisa lebih menghargai biji kopi, proses sangrainya, bahkan cara seduhnya.

Dan yang paling penting, saya belajar satu hal:
Tidak semua yang pahit harus dijauhi. Kadang, dari yang pahit itu, kita menemukan keindahan rasa yang sesungguhnya.

Sebagai penutup, kalau kamu belum pernah mencoba kopi tanpa gula, mungkin sekarang waktu yang pas untuk mencobanya. Bukan untuk ikut-ikutan gaya hidup, tapi untuk mengenal rasa yang sebenarnya selain demi kesehatanmu sendiri.. 

Cobalah satu teguk. 

Bukan untuk menyiksa lidah, tapi untuk mengenal rasa... dan mungkin, mengenal diri sendiri. (irb)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Layar Ujian TKA Hari Ini di SMA Bayt Al Hikmah: Persiapan hingga Realitas di Lapangan

Dua Hari Bersama TKA: Dari Komputer Lemot, Kunci Ketlisut, Misteri Soal No 25 hingga Kunjungan Gus Amak